erwin s basrin
Rantai Radikal menuju Pembebasan

Kaum Pergerakan, Lakukan Perlawanan!

Bencana ternyata tak bisa dihentikan. Ribuan penduduk kini menetap di tenda-tenda. Ada beberapa orang yang memutuskan mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Mereka tak lagi tahu harus bersikap seperti apa; ketika rumah roboh dan bantuan tak pernah jelas maka hidup bukan hal mudah untuk dilanjutkan. Beberapa aktivis hukum mulai melontarkan somasi pada pejabat yang berbohong. Jawaban si pejabat tak kurang tangkas: saya tak pernah bohong dan bantuan tetap diberikan walau jumlahnya lebih kecil. Alibi dan dalih mulai dikucurkan untuk menutupi semua kenyataan keji. Itulah nasib rakyat: dari dulu sampai kini hanya menjadi tumbal. Karena tumbal itulah maka musibah selalu dibaca sebagai bagian dari kehidupan yang membuat manusia tak bisa berkelit. Ketika sebuah musibah datang, yang dituntut bukan tanggung jawab melainkan sikap ikhlas dan lapang. Ini bukan hanya sikap naif tapi sesat.

Kesesatan yang membuat pemerintah memutuskan untuk menaikkan upah parlemen. Sesat pulalah yang membuat pemerintah memutuskan untuk menambah gaji ke -13. Seolah-olah pemerintah bukan berdiri diatas kepentingan rakyat tapi kepentingan para pejabatnya. Makanya kita jadi terkejut ketika pemerintah bilang bahwa siswa yang tak lulus ujian adalah anak bodoh. Apakah siswa itu bodoh kalau bertahun-tahun sekolah tapi hanya tiga mata pelajaran yang diujikan? Dimana sebenarnya letak kebodohan tatkala dunia pendidikan tidak memahami dan menghargai proses. Tiba-tiba kurikulum diubah dan diputuskan tanpa memahami konsekuensi yang timbul. Pemerintah terlanjur untuk tidak menghiraukan beda tajam antara keputusan dengan konsekuensi. Akibatnya kemudian jadi tampak mengenaskan: kita diminta untuk mengulang-ulang musibah. Kita jadi seperti yang dikatakan oleh pejabat pemerintah, anak bodoh yang peluangnya hanya mengulang soal-soal ujian.

Kita jadi putus harapan menyaksikan kenyataan suram ini. Ide-ide perubahan sosial yang muncul seolah jadi pidato membosankan. Demokrasi, tanggung jawab sosial, partisipasi hanya kutipan khutbah yang kering dari contoh-contoh konkrit. Ide itu bergulir hanya dari buku, ke seminar, lalu pada pelatihan dan tertinggal dalam teks proposal. Ide itu hanya jadi seruan para demonstran yang kini kehilanggan massa. Lebih-lebih kita menyaksikan keringnya tulisan-tulisan cerdas dan jitu dari para ilmuwan. Ide-ide sosial yang tenggelam ini telah membuat keputusan dan kebijakan pemerintah hanya memutar-mutar korban. Baik dalam pemotongan subsidi maupun penanganan bencana alam, pemerintah bersikap sama: prosedural, berbelit-belit dan memakan korban rakyat miskin. Rakyat memang dibiarkan sendirian: termangu di tenda dan menunggu-nunggu harapan.

Sia-sia kita berusaha untuk mencari jalan keluar ketika lembaga hukum mengalami kematian fungsi. Jika hukum hanya menjadi debat antara ilmuwan, pekerja hukum dan para pengacara maka keadilan hanya jadi omong kosong. Kode etik Mahkamah Agung yang memperbolehkan hakim menerima hadiah seperti aturan keji yang melukai cita-cita keadilan. Apalagi kalau Mahkamah Agung menyatakan itu sebagai kesalahan ketik; lagi-lagi itu menjadi tanda bahwa di tubuh kekuasaan tertinggi peradilan hanya diisi oleh bangkai. Tidak hanya bau kebusukan, karena tiba-tiba sang Ketua dengan alasan otonomi memperpanjang masa pensiunan dirinya sendiri. Perangai sang ketua ini seperti menumpuk kotoran yang selama ini jadi sasaran kritik banyak orang. Tapi begitulah hukum kalau dijalankan oleh manusia-manusia yang tidak berakal, miskin nurani dan suka dengan kemegahan. Sinyal keadilan dalam lembaga hukum roboh dan peradilan hanya jadi ruang tempat harapan dan nurani dibuang.

Berpaling kita pada gerakan sosial yang menyediakan stok aktivis. Mereka yang selama ini menjadi barisan kritis dan selalu peka pada derita dan cacat kekuasaan. Sebagian mereka memang telah mengusir ketergantungan dan memilih untuk bergerak dalam barisan massa yang padat. Di kalangan petani, buruh, kelompok miskin akan selalu ada pendamping yang setia dan gigih melakukan tuntutan. Anak-anak muda ini tidak hanya dibesarkan oleh pendidikan tapi juga kekecewaan publik. Mereka sebagian ada yang berlagak tapi sebagian besar ada pula yang dengan gigih melontarkan tuntutan-tuntutan pedas. Sandaran kepercayaan kalau bangsa ini bisa beres ada di pundak mereka. Mengikuti jalan para pejuang radikal kini anak-anak muda ini menyemut di gerakan-gerakan kritis. Pemukiman mereka di dunia LSM-semoga-hanya sementara, untuk memenuhi, kebutuhan yang mereka sebut logistik. Wajib bagi mereka untuk segera membasuh pengetahuan dan terjun di massa dengan agresivitas dan pemahaman yang lebih berani. Itulah yang menuntut mereka untuk tidak hanya duduk dan diam memandang perubahan.

Sinyal yang patut mereka jadi sandaran adalah gagasan tentang perubahan. Teks-teks perubahan sosial tidak hanya perlu ditelan habis tapi juga memerlukan kerja-kerja konkrit. Kalau dibilang ekonomi kapitalis itu busuk maka wajib untuk mereka memberi tauladan pelembagaan ekonomi yang menjamin terwujudnya nilai keadilan. Jika dinyatakan bahwa militerisme itu kejam maka penting untuk merumuskan tatanan sosial dimana peran militer menjadi kekuatan pelindung masyarakat, bukan golongan penindas rakyat. Disini gerakan sosial memerlukan cermin nyata praktek pelembagaan sosial yang bisa memenuhi hajat hidup rakyat miskin. Dengan begitu gerakan sosial yang muncul bukan hanya meyentuh tapi juga menjaring dukungan semua lapisan karena kerja-kerja konkritnya yang bisa dirasakan. Kutukan kita pada partai politik yang ada memberi pelajaran penting bagaimana perubahan sosial tak hanya bisa mengandalkan kebodohan dan kenaifan masyarakat. Gerakan sosial yang sungguh-sungguh hendaknya menyuntikkan kesadaran kritis bukan kesadaran naif.

Itu sebabnya bekal penting dan utama adalah kemandirian dan nyali. Kemandirian yang akan membuat gerakan sosial ini tidak terantuk dalam kubangan konspirasi institusi global yang selama ini jadi kritik kita pada dunia LSM. Kemandirian sekaligus akan membangkitkan nyali kita dari sikap reformis, penuh perhitungan dan hati-hati. Gerakan sosial bukan sebuah agen perjalanan yang meliput perkembangan masyarakat dengan gambaran yang datar dan dingin. Tiap perubahan yang berjalan hanya merupakan sinyal untuk menyalakan lampu peringatan akan konsep-konsep dasar yang hendak kita bangkitkan. Masyarakat yang marah, frustasi dan kalah memang perlu diungkit kembali potensi dan kekuatanya. Itu sebabnya mustahil lahir seorang aktivis sosial progresif jika beragam kepedihan masyarakat tidak dibaca sebagai potensi perlawanan. Pembangkangan dan pelucutan status-status sosial adalah alat ukur kita untuk melihat bagaimana masyarakat memerankan kemandirianya.

Bangsa ini masih punya harapan selama kekuatan sosial berani melawan segala bentuk kezaliman publik. Kisah sang ketua mahkamah yang kotor itu membuat kita punya amsal yang baik tentang bagaimana busuknya hukum disini. Alibi, dalih dan alasan para anggota parlemen hanya menambah amunisi kebencian kita pada sistem demokrasi prosedural. Yang tinggal kini hanya sebuah gerakan sosial, yang meramu kekecewaan, frustasi dan kekalahan massa menjadi barisan gagah yang berani menentang pasukan keji. Harapan memang belum sepenuhnya terbuang, tapi bisa tenggelam kalau kita hanya menjejali rakyat kepasrahan, kenaifan dan cetusan sikap pengecut. Waktunya kita untuk menentang semua gejala-gejala busuk kekuasaan yang hanya membangkitkan kembali beragam bencana sosial. Kita menunggu bangkitnya gerakan sosial progresif!

One Response to “Kaum Pergerakan, Lakukan Perlawanan!”

  1. salam,
    senang bertemu Anda melalui blog ini sy Agus Suhanto, tulisan yang menarik :) … salam kenal yee


Leave a Reply